Minggu, 23 Oktober 2016

Aliran Mu'Tazilah (Sejarah, Ajaran dan Perkembangannya)



ABSTRAK
            Mu’Tazilah adalah kaum yang sangat berperan pesat dalam perkembangan pola pemikiran umat islam, Mu’tazilah juga sudah muncul selama 6 abad yang lalu, sekitar abad pertama Hijriah. Walaupun Mu’tazilah termasuk kedalam majusi yaitu kaum yang memegang akidah teologi dualisme, yaitu mempercayai bahwa tuhan emiliki dua wujud yaitu baik dan buruk.
            Mu’tazilah juga termasuk golongan yang berhasil mempertahankan Islam dalam persoalan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan menghilangkan kesesatann seerta memberantas yang tersebar luas pada Khilafa Bani Abbasiyah.
Kaum Mu’tazilah juga sangat berpegang teguh kepada ilmu pikiran atau sebut saja denga logika, baru selanjutnya menggunakan Al-Qur’an dan Hadist. Mu’tazilah juga sangat berpegang teguh denga 5 prinsip dasar yaitu tauhid, keadilan, janji dan ancaman, tempat diantara dua tempat, dan yang terakhir adalah Amar Makruf Nahi Munkar.
Ajaran-ajaran Mu’tazilah sempat berhasil memiliki pengaruh besar terhadap islam selama dua abad lamanya, dikarenakan didukung dan diikuti oleh penguasa pada masa itu, namun untuk saat ini kaum Mu’tazilah sudah tidak ada lagi yang ada hanyalah bekas sejarah dari munculnya peradaban kaum Mu’tazilah.

1.2  Sejarah Timbulnya Mu’tazilah
Lahirnya aliran Mu’tazilah berawal dari salah satu murid Hasan Al-Basri dari Masjid Basrah yang bernama washl bin atho sekitar abad pertama Hijriah pada zaman Abasiyah di kota Basrah, Iraq[1]. washil bin atho adalah murid Hasan Al-Basri yang terbilang pandai diantara murid yang lain. Pada saat itu Hasan Al-Basri sedang menjelaskan tentang seorang manusia yang beriman kepada AllahSWT dan rasulnya, namaun pada saat itu dia meninggal ketika setelah melakukan dosa besar dan belum sempat melaksanakan taubat, maka orang tersebut akan dimasukan kedalam neraka dengan berbagai macam siksaan, kemudian setelah selesai sudah hukuman tersebut barulah orang yang meninggal tadi masuk kedalam surga. sesuai firman Allah “Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya ,mengalir sungai-sungai,kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘And. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar itu adalah keberuntungan yang besar” (QS. At-Taubah : 72).
Setelah mendengar penjelasan dari Hasan Al-Basri tersebut, Waslh Bin Atho merasa tidak setuju dan tidak sependapat dengan pernyataan gurunya Hasan Al-Basri, akhirnya Washil Bin Atho memutuskan untuk keluar dari Majelis tersebut dan mulai membuat pendapat baru yang disebut aliran Mu’tazilah. Aliran Washil Bin Atho ini diikuti oleh temannya yang bernama Amr Bin ‘Ubaid, waktu itukekuasaan dipegang oleh Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Pada saat itu Washil Bin Atho  mulai mengasingkan diri dari sudut masjid Basrah, Al-Bagdadi berkata “Wahil Bin Atho memiliki pendapat yang beda dari aliran yang sudah ada (Syi’ah Khawarij dan Salaf) dia berpendapat bahwa orang fasik yang beragama islam adalah orang yang tidak kafir dan juga tidaklah mukmin. Dia menjadikan fasik diantara kedua tempat. Perkataan tersebut sampai terdengar oleh Hasan Al-Basri, mengetahui hal tersebuta Hasan Al-Basri kaget dan langsung mengusir Washil Bin Atho dari majelisnya, karena sangat bertentangan dengan pendapat yang pernah dijelaskan oleh Hasan Al-Basri. Kesesatan Bid’ah yang dilakukan Washil Bin Atho ini didukung oleh temannya Amr Bin Ubaid bin Bab, bagaikan seorang budak yang dibebaskan oleh majikannya. Dan sejak itu pula Washil Bin Atho mengasingkan diri dari masjid Basrah dan terbentuk aliran Mu’tazilah.” Dari situ sudah dapat disimpulkan bahwa kaum Mu’tazilah tidak beerpihak pada kaum ahlul sunnah wal jamma’ah dan tidak juga dengan aliran syi’ah.
Sejak islam tersebar luas di dunia, banyak sekali orang yang baru memeluk agama islam, namun tidak banyak pula yang memeluknya dengan ikhlas, banyak orang-orang yahudi atau musuh islam lain yang ingin mempelajarai, mengetahui dan mencari titik lemah agama Islam dengan cara menganut agama Islam dengan tujuan yang berbeda. Atau bisa disebut dengan musuh Islam dalam Slimut.
Salah satu musuh Islam ini yaitu golongan Syi’ah ekstrim yang ajarannya jelas sangat menyimpang jauh dari ajaran Islam pada awalnya. Dalam keadaan yang seperti ini aliran Mu’tazilah semakin berkembang pesat, perkembangan pesat ini terjadi karena aliran Mu’tazilah memiliki sisitem pola pikir yang begitu menonjol dan sangat rasionalis sehingga disebut sebagai rasionalis Islam.[2]
2.3  Aliran Mu’tazilah
Mu’tazila berasal dari kata I’tazala yang berarti menyisihkan / memisahkan diri. Aliran mu’tazila adalah golongan yang berhasil mengambil peranan penting dalam sejarah Islam, dan termasuk golongan tertua dalam perkembangan pemikran logika Islam. Aliran mu’tazila sangat mengutamakan pikiran dan logika dalam menafsirkan suatu permasalahan. Beda dengan Ahlussunnah wal jamma’ah yang memetingkan (mendahulukan) pendapat menurut Al-Qur’an dan Hadist dulu baru selanjutnya menggunakan pikiran/logika apabila tidak bisa diselesaikan dengan khalaqul Qur’an.
Aliran Mu’tazila adalah golongan yang rasionalis dan kritis. Aliran Mu’tazila sangat menyukai dan mempelajari ajaran filsafat terutama filsafat yunani seperti plato dan Aristatoles untuk memperkuat pendapat-pendapatnya.
2.4  Ajarannya
Mu’tazilah terpecah menjadi 22 aliran, walaupun sudah terpecah seperti itu aliran-aliran tersebut masih memegang lima dasar prinsip ajaran yang hampir disepakati oleh ahli-ahli sejarah[3] :
1.      Tauhid (Pengesaan)
Ilmu tauhid adalah dasar ajaran utama agama islam, kaum Mu’tazilah menamakan dirinya sebagai Ahlul ‘Adli Wat Tauhid (pengembangan keadilan dan ketauhidan). Karena menurut pendapat aliran Mu’tazilah tidak ada yang bisa menyamai Tuhan yang Esa. Karena Tuhan yang Esa tidak bisa terbatas, tidak melahirkan dan dilahirkan, tidak bisa dicapai panca indra.
Kaum M’tazilah memakai Istilah Tauhid karena mereka meniadakan sifat-sifat Tuhan yang Qadim. Karena jika mereka beranggapan bahwa jika Tuhan memiliki sifat yg Qadim, maka akan timbul Qadim-Qadim berikutnya, Dan ini termasuk kepercayaan yang syirik.
Mereka juag beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk hidup Allah, karena tidak ada yang Qadim kecuali Allah SWT. Sejak itu kamu Mu’tazilah memiliki julukan baru dari musuh-musuhnya yaitu Mu’atthilah karena mereka meniadakan sifat-sifat Allah yang pembuktiannya jelas sudahada dan dituliskan di Al-Quran. Dan untuk orang-orang yang menetapkan sifat-sifat Allah diberikan gelar Shifatiyah.
2.      Al-Adl (Keadilan)
Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Keadilan berarti menaruh tanggung jawab manusia atas segala perbuatannya,mau baik ataupun buruknya suatu perbuatan itu. Tuhan menghendaki perbuatan buruk manusia tetapi tidak menciptakan perbuatannya. Manusia dapat mengerjakan segala perintah Tuhannya dan dapat juga meninggalkan segala larangannya, karena tuhan telah memberikan kebebasan pada diri manusia.
dari hudzaifahberkata bahwa rasulullah Saw. Bersabda: bagi tiap-tiap umat ada majusinya dan majusi umatku ialah mereka yang menyatakan  tidak ada takdir...” (HR. Abu Dawud)
dimaksud dengan majusi umatku dalam hadist tersebut adalah kelompok aliran Mu’tazilah yang memegang akidah teologi dualisme, yang meyakini dua keyakinan tuhan yaitu tuhan yang baik dan tuhan yang buruk. Majusi adalah julukan dalam islam bagi pengikuti agama Zoroaster, agama ini juga sudah ada sejak 6 abad yang lalu. Hadist diatas memberi penjelasan mengenai Qadar yang sudah ada sejak masa Rasulullah. Dan permasalahan tersebut termasuk masalah yang sudah kuno dan usang.
3.      Wa’d wal wa’id (Janji dan ancaman)
Janji dan ancaman menurut kaum Mu’tazilah adalah apabila seorang mukmin meninggal dalam keadaan taat dan taubat dia pantasa mendapatkan pahala dan karunia dari tuhan, sebaliknya apabila seorang mukmin meninggal dalam keadaan dalam keadaan tidak taat dan tidak pula bertaubat maka dia ditempatkan dalam neraka selama-lamanya namun ukuman yang ia terima tidak seberat siksaan orang-orang kafir.
Karena mereka percaya apa yang telah tuhan janjikan pada umatnya pasti akan dilakukan. Apabila umatnya berbuat kebaikan maka akan dibalas kebaikan begitu pula dengan umatnyayang berbuat jahat maka keburukan pula yang akan didapatkan.
4.      Tempat diantara dua tempat
Washil bin atho mengatakan bahwa orang yang berdosa besar termasuk golongan orang-orang fasiq selain dari musyrik. Dia bukan termasuk orang yang kafir dan bukan pula mukmin.
Kaum Mur’jiah berpendapat bahwa orang mukmin yang melakukan dosa besar, tetap masih termasuk golongan orang Mukmin. Kaum Khawarij berpendapat bahwa orang islam yang telah melakukan dosa besar dianggap kafir dan tidak mukmin. Menurut pendapat Hasan Al-Basri menyatakan orang mukmin yang melakukan dosa tersebut termasuk golongan orang yang munafik. Beda pendapat lagi dengan Washil Bin Atho, orang mukmin yang melakukan dosa besar termasuk orang yang Fasiq dan berada dalam dua tempat kafir atau mukmin, neraka atau surga.[4]
2.5  Amar Makruf Nahi Munkar
 Banyak sekali Ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas persoalan Amar Makruf Nahi Munkar salah satunya QS.Ali Imran ayat 104 dan surat Luqman ayat 17. Dan hal ini harus disiarkan dan dijalankan bagi umat islam dan hal ini merupakan tugas bagi umat islam sebagai bukti keberanian. Dan akhirnya terbukti bahwa kaum Mu’tazilah yang berani dan gigih dalam mempertahankan islam serta memberantas kesesatan yang tersebar luas dimuka bumi. Mengapa kaum Mu’tazilah lah yang berhasil dalam hal ini? Karena kaum Mu’tazilah yakin dengan kemampuan akal pikiran, ciri-ciri  kaum Mu’tazilah adalah berdebat terutama dengan hadapan umum, itu termasuk salah satu faktor mengapa kaum Mu’tazilah gemar berdebat dengan siapa saja.[5]

2.6  Perkembangannya
Ajaran-ajaran kaum Mu’tazilah sangata mempengaruhi sekitar dua abad lamanya, serta didukung dan diikuti oleh penguasa pada saat itu, hal- hal yang diperdebatkan pada saat itu:
1.      Sifat-sifat Allah itu ada atau tidak
2.      Baik dan buruk itu ditetapkan berdasarkan syara’ atau akal pikiran
3.      Orang yang berdosa besar akan kekal di neraka atau tidak
4.      Al-Qur’an itu Makhluk atau bukan
5.      Alam itu qadim atau hadis
6.      Allah Swt. Itu bisa dilihat di akhirat nanti atau tidak
7.      Allah Swt. Wajib membuat yang baik dan yang lebih baik
Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah Swt. Tidak memiliki sifat, apabila dzat Allah Swt adalah qadim dan sifat Allah Swt. Juga qadim maka akan menumbuhkan qadim-qadim berikutnya.
Kaum Mu’tazilah berpendapat baik dan buruknya sesorang tergantung dari akal pikiran orang tersebut, karena Allah Swt. Selalu memerintahkan hal yang baik-baik kepada umatnya. Dan apabila sesuatu itu buruk maka Allah Swt. Melarang umatnya untuk melakukan hal tersebut.
Baik dan buruk menurut Ahlus Sunnah Wal jamma’ah adalah baik adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan buruk adalah sesuatu yang digarisi oleh syara’ bahwa sesuatu itu buruk.tidak adak akal pikiran yang mampu menjelaskan tentang baik dan buruk itu sendiri.
Kaum Mu’tazilah berpendapat Allah Swt. Tidak bisa dilihat di bumi dan juga tidakdapat dilihat ketika diakhirat nanti.
Menurut sunni dalam QS. Al-An’am ayat 103 yang menerangkan bahwa manusia sewaktu hidupnya tidak akan dan tidak dapat melihat Allah Swt. Namun Allah Swt senantiasa  melihatnya.
sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu senyata-nyatanya” (HR. Bukhari dan Muslim)
sesungguhnya ada beberapa orang bertanya: wahai Rasulullah bisakah kami melihat Tuhan pada hari kiamat? Beliau menjawab: apakah ada sesuatu yang menghalangimu melihat matahari tanpa ada awan? Mereka berkata: tidak. Beliau lalu bersabda: Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu seperti itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam pandangan kaum Mu’tazilah manusia berhak melakukan segala perbuatannya bebas ata kehendak dan kemauannya sendiri. Oleh karena itu manusia patut mendapatkan pahala atau dosa dari apa yang telah dia lakukan. Dari pandangan kaum Mu’tazilah ini dia mengikuti dasar dari beberapa ayat Al-Qur’an :
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Tiap-tiap jiwa terikat dengan apa yang telah diperbuatnya”. (QS. AL-Muddattsir: 38)
Quran, Surah Ad-Dahr, Ayat 3
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS.Ad-Dahr: 3)

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Dan barangsiapa melakukan suatu dosa. Maka sesungguhnya ia melakukan untuk merugikan dirinya sendiri”. (QS.An-Nisa: 111)
            Jadi umat manusia diberikan kebebasan oleh Allah Swt. Dalam melakukan segala hal di dunia ini, namun dari tiap-tiap yang dilakukannya itu memiliki tanggung jawabnya masing-masing yaitu anatara diberikannya pahala dan dosa.
Asy-Syahrastani menjelaskan kepada seorang lelaki yang bertamu lalu bertanya kepada Hasan Al-Basri:
Wahai pemimpin, dizaman kita ini telah banyak sekali aliran atau golongan baru yang mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa, lalu menurut pandangan mereka tentang dosa besar itu apa?
Menurut kaum Wa’idiyah Khawarij,dosa besar itu sama dengan mengkafirkan, yang mampu mengeluarkan orang-orang itu dari agamanya.
Manurut kaum Murji’ah, menurut pandangan mereka dosa besar merupaka suatu hal yang merusak iman, dan beramal bukanlah satu-satunya dari rukun iman. Dan perbuatan maksiat tidak sama sekali merusak iman, dan sama halnya dengan ketaatan tidak ada manfaat jika disertai dengan kekafiran.
Menurut Washil Bin Atho(Mu’tazilah), orang yang melakukan dosa besar masih termasuk orang mukmin dan tidaklah kafir, dan dia ditempatkan diantara dua tempat tidak kafir dan tidak pula mukmin tetapi fasiq.
            Islam adalah agama yang mudah dan gampang untuk dipahami, namun kaum Mu’tazilah membuat semua hal tersebut menjadi rumit akibat memasukan ilmu filsafat alam an ketuhanan kedalam ajaran agama Islam. Kaum Mu’tazilah begitu mempercayai kekuatan akal pikiran, sedangkan akal pikiran tidak selalu benar. Dan apabila ada yang tidak menerima pendapat tentang Khalaqul Qur’an maka mereka akan menyerang orang-orang yang tidak setuju seperti para sahabt nabi yang menolak ajarannya.

2.7 Kesimpulan
Mu’tazilah adalah kaum yang selalu menggunkaan logika dalam menyelesaikan suatu permasalahan baru selanjutnya Al-Qur;an Hadist. Begitu mempercayai kekuatan dari logika yang mereka miliki dari Tuhan. Kaum Mu’tazilah termasuk dalam golongan Majusi yaitu yang berpegang dengan akidah teologi dualisme. Kaum Mu’tazilah juga berhasil memberikan perkembangan yang sangat pesat dalam memberantas kesesatan yang terjadi pada masa Khilafah Bani Abbasiyah. Ambil isi baik dari kaum Mu’tazilah, karena walupun mereka salah, namun tak sepenuhnya salah, jadi ambil baik dari prilaku kaum Mu’tazilah dan tinggalkan segala keburukan dan kesesatan yang telah mereka perbuat.


Daftar Pustaka
Nasir, S. A. 2012. Pemikiran Kalam (TEOLOGI ISLAM): Sejarah, Ajaran, dan Perkembangan. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta
M.A. Mulyono dan Bashori.2010. Studi Ilmu Tauhid/Kalam. UIN-Maliki Press. Malang


[1] M.A. Mulyono dan Bashori.2010. Studi Ilmu Tauhid/Kalam. hlm 130
[2] Nasir, S. A. 2012. Pemikiran Kalam (TEOLOGI ISLAM): Sejarah, Ajaran, dan Perkembangan. hlm 163
[3] Nasir, S. A. 2012. Pemikiran Kalam (TEOLOGI ISLAM): Sejarah, Ajaran, dan Perkembangan. hlm 167
[4] M.A. Mulyono dan Bashori.2010. Studi Ilmu Tauhid/Kalam. hlm 128
[5] Nasir, S. A. 2012. Pemikiran Kalam (TEOLOGI ISLAM): Sejarah, Ajaran, dan Perkembangan. hlm 168-174

Tidak ada komentar:

Posting Komentar